Header Ads

Inovasi Insinerator Berkelanjutan dalam Penanganan Limbah Sampah

Desa Gonilan sebagai penyangga kawasan kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadapi persoalan serius terkait tingginya volume sampah yang mencapai sekitar 40 ton per bulan. Dominasi limbah plastik sekali pakai dan sisa makanan, ditambah keterbatasan kapasitas Tempat Penampungan Sementara (TPS), menyebabkan penumpukan sampah yang menimbulkan bau serta berpotensi menyebabkan penyakit. Sistem pengelolaan yang masih mengandalkan pola kumpul–angkut–buang serta jarak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang semakin memperburuk kondisi tersebut.

Sumber: ums.ac.id

Menanggapi permasalahan terssebut, tim dosen UMS yang diketuai Ramzul Irham Riza, B.Eng., M.T., bersama Dr. Nur Aklis, S.T., M.Eng., Dr. Agung Sugiharto, S.T., M.Eng., Mas’ud Fajar Al-mu’tashim, dan Dicky Kurnia mengembangkan insinerator ramah lingkungan. Alat berukuran kecil ini mampu beroperasi pada suhu 800–900°C dengan kapasitas pengolahan 25–40 kilogram sampah per jam. Selain mengurangi volume sampah secara signifikan, abu hasil pembakaran juga dapat dimanfaatkan sebagai campuran paving blok.

Sumber: ums.ac.id

Keberhasilan program ini juga didukung partisipasi masyarakat melalui Kelompok Pengelolaan Sampah Mandiri (P2SM) RW X. Pendekatan yang menggabungkan teknologi, sosialisasi, dan pelatihan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan. Model di Desa Gonilan ini berpotensi menjadi contoh bagi wilayah lain dengan tetap mengedepankan prinsip reduce, reuse, dan recycle. (CERITA)

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh merrymoonmary. Diberdayakan oleh Blogger.