Tradisi Blangikhan 2026 di Lampung Tengah, Ritual Penyucian Diri Sambut Ramadan 1447 Hijriah
Tradisi Blangikhan kembali digelar oleh masyarakat Lampung Tengah pada Rabu (18/2), di Sesat Agung Nuwo Balak sebagai persiapan menyambut Ramadan 1447 Hijriah. Tradisi tahunan ini menjadi bentuk penyucian diri yang dilakukan beberapa hari sebelum umat Islam memasuki bulan puasa.
Blangikhan, yang juga dikenal sebagai Blangiran, merupakan ritual mandi atau siraman menggunakan air dari tujuh sumber mata air yang telah dicampur bunga tujuh rupa dan bahan alami lainnya. Prosesi diawali dengan doa bersama dan pemecahan kendi sebagai simbol dimulainya rangkaian adat. Ritual ini dimaknai sebagai upaya membersihkan diri secara lahir dan batin agar lebih siap menjalankan ibadah Ramadan.
Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menjadi bagian dari pelestarian budaya masyarakat Lampung. Keterlibatan generasi muda dalam prosesi menunjukkan bahwa warisan adat tetap dijaga dan diteruskan dari generasi ke generasi. Nilai kebersamaan dan gotong royong menjadi pesan utama yang ingin disampaikan melalui kegiatan tersebut.
Selain itu, Kementerian Pariwisata menilai Blangikhan memiliki potensi sebagai daya tarik wisata berbasis budaya. Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menyatakan bahwa tradisi lokal seperti ini dapat memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata. Dengan pelaksanaan yang konsisten setiap tahun, Blangikhan menjadi contoh bagaimana budaya dan momentum keagamaan dapat berjalan dengan beriringan.
(NAWRA)
Tidak ada komentar