Kerbau Bule dan Laku Bisu, Dua Tradisi Kerajaan Solo dalam Menyambut 1 Suro
Perayaan Malam 1 Suro kembali berlangsung khidmat di Kota Solo melalui penyelenggaraan Kirab Pusaka yang digelar oleh Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran pada Selasa, (16/6). Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi simbol pelestarian budaya Jawa sekaligus sarana refleksi diri dalam menyambut pergantian tahun Jawa 1960 Jimawal. Ribuan warga tampak memadati kawasan sekitar keraton dan pura untuk menyaksikan prosesi yang sarat nilai budaya tersebut.
Di Keraton Kasunanan Surakarta, Kirab Pusaka digelar pada malam 1 Suro dengan mengarak sejumlah pusaka keraton serta kerbau bule yang menjadi bagian dari tradisi sakral keraton. Prosesi berlangsung melalui rute yang melintasi sejumlah jalan utama di Kota Solo dan diikuti oleh abdi dalem yang berjalan dengan khidmat tanpa alas kaki. Sementara itu, Pura Mangkunegaran menggelar Kirab Pusaka Dalem pada Selasa (16/6) malam yang dipimpin langsung oleh GPH Paundrakarna sebagai cucuk lampah. Dalam prosesi tersebut, para peserta menjalankan Laku Bisu, yakni berjalan tanpa berbicara sebagai bentuk introspeksi diri dan doa untuk keselamatan di tahun yang baru.
Meski sama-sama berakar pada tradisi Jawa dan dilaksanakan dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa, kedua kirab memiliki ciri khas tersendiri. Kirab Kasunanan Surakarta dikenal dengan kehadiran kerbau bule serta prosesi yang berpusat pada tradisi keraton yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Di sisi lain, Kirab Pusaka Dalem Mangkunegaran lebih menonjolkan nilai perenungan melalui penerapan Laku Bisu sepanjang perjalanan kirab. Perbedaan tersebut menunjukkan kekayaan ragam budaya Jawa yang tetap hidup dan berkembang di lingkungan kerajaan yang berbeda.
Prosesi Kirab Malam 1 Suro juga menjadi wujud komitmen dalam menjaga warisan budaya Jawa agar tetap dikenal oleh generasi muda. Antusiasme masyarakat yang terus meningkat setiap tahun menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sejarah masih memiliki tempat di tengah kehidupan modern. Melalui pelestarian budaya, identitas dan kearifan lokal Jawa diharapkan dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
(NAWRA)
Tidak ada komentar