RehaDex System: Inovasi Mahasiswa UMS yang Harumkan Nama Indonesia di Kancah Internasional
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Kembali menorehkan prestasi di kancah internasional melalui ajang International Science Fair yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga. Tim RehaDex telah berhasil meraih medali perak berkat inovasi berjudul “RehaDex System: Smart Finger Extension Monitoring System Based on Real-Time Muscle Strength Detection for Rehabilitation Therapy”. Tim ini diketuai oleh Tsannina Saida Lathifa bersama anggota Najwa Citamajida, Dinaya Ulfah, dan Tutut Setya Linda Mahandini di bawah bimbingan Adnan Faris Naufal, S.Fis., M.Biomed. Inovasi ini berfokus pada pengembangan alat yang mampu mengukur kekuatan otot secara real-time untuk mendukung terapi rehabilitasi yang lebih akurat.
Pada wawancaranya, Najwa Citamajida menjelaskan bahwa selama ini pengukuran kekuatan otot dalam fisioterapi masih menggunakan metode Manual Muscle Testing (MMT) yang bersifat subjektif, sehingga hasilnya dapat berbeda pada setiap tenaga medis. “Biasanya pengukuran otot masih menggunakan metode Manual Muscle Testing (MMT) yang sifatnya subjektif. Setiap fisioterapis bisa menghasilkan penilaian yang berbeda. Dari situ kami ingin mengembangkan alat yang mampu mengubah penilaian subjektif menjadi objektif,” ujarnya. Ide pengembangan RehaDex System sendiri berawal dari tugas mata kuliah pediatri yang kemudian dikembangkan menjadi solusi nyata berbasis teknologi untuk menjawab permasalahan di lapangan.
Dalam prosesnya, tim menghadapi berbagai tantangan, terutama kendala teknis menjelang perlombaan. Najwa mengungkapkan bahwa alat sempat mengalami error akibat korsleting sehari sebelum kompetisi, sehingga tim harus memperbaikinya semalaman. “Pas H-1 alat kami sempat error karena korsleting. Kami harus memperbaiki semalaman tanpa tidur. Alhamdulillah, sebelum presentasi alat sudah kembali normal,” jelasnya. Ke depan, tim RehaDex berencana mengembangkan sistem berbasis web tanpa mengabaikan versi offline agar tetap dapat digunakan di daerah dengan keterbatasan akses internet, sebagai bentuk komitmen menghadirkan inovasi yang inklusif di bidang kesehatan.
(SENTABERAF)
Tidak ada komentar